Beranda Daerah Alumni FKG UNAIR Gelar Pelayanan Gigi Gratis di 12 Titik Terdampak Bencana...

Alumni FKG UNAIR Gelar Pelayanan Gigi Gratis di 12 Titik Terdampak Bencana di Flores

26
0

Harianntb.my.id, Flores, Nusa Tenggara Timur | Sebanyak 316 warga di 3 kabupaten di Pulau Flores menerima layanan kesehatan gigi gratis. Layanan itu diberikan tim relawan yang dipimpin drg. Eris Basiroh, FISQua, alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga UNAIR.

Kegiatan berlangsung di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Bencana gempa dan tsunami menjadi latar belakang kegiatan kemanusiaan tersebut.

Untuk menjangkau wilayah kepulauan, tim harus menyeberang laut selama 1 jam menuju Pulau Messah dan Pulau Boleng. Tim membawa perlengkapan medis dan logistik dengan kapal.

Medan darat juga tidak mudah. Tim menempuh perjalanan 3 jam menggunakan truk pengangkut untuk mencapai pelosok gereja di wilayah terpencil. Akses jalan di beberapa titik tertutup material longsor berupa batu besar.

“Kondisi jalan naik turun dan terjal. Di satu titik kami harus membersihkan batu longsor terlebih dahulu,” kata drg. Eris saat ditemui di Sumbawa Barat, Senin 15 September 2026.

Selama di lokasi, tim menghadapi keterbatasan listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi. Listrik hanya menyala pukul 09.00 – 02.00 WITA. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga dan relawan terpaksa menggunakan air laut.

Meski begitu, pelayanan tetap berjalan. Tim melakukan pemeriksaan gigi, edukasi cara sikat gigi, demonstrasi, dan ekstraksi sesuai indikasi medis. Pelayanan dilakukan di gedung gereja, sekolah, dan bahkan di pinggir jalan karena keterbatasan tempat.

“Angin dan debu jadi tantangan saat ekstraksi di area terbuka. Tapi prinsip steril tetap kami jaga,” ujar drg. Eris.

Selain itu pelayanan medis, tim juga membagikan sikat gigi dan pasta gigi kepada warga.

“Seorang pasien bercerita sikat giginya terbawa tsunami. Dari situ kami sadar, kebutuhan dasar seperti alat kebersihan juga penting bagi penyintas,” kata drg. Eris.

Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan adanya kesenjangan akses layanan kesehatan gigi di wilayah 3T. Jarak jauh, minim fasilitas, dan kurangnya tenaga kesehatan membuat warga menahan sakit dalam waktu lama.

“Prinsip kami sederhana. Ketika mereka tidak bisa datang ke dokter gigi, maka kami yang datang kepada mereka,” tegasnya.

Hingga akhir kegiatan, tim telah melayani 316 pasien dari berbagai usia di 12 titik pelayanan. (HNTB09)

Artikel sebelumyaBantah Isu Miring, Kepala Bappeda KSB Pastikan Perencanaan Sesuai RPJMD dan Musrenbang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here